Generasi TCK Mencari Jati Diri Leluhur

  • Breaking News

    Sunday, October 2, 2016

    Keturunan Batak Perantauan dan 'Third Culture Kid'

    Pernahkah Anda mendengar istilah TCK (Third Culture Kid)? Mungkin bagi yang memiliki educational background Psikologi atau Sosiologi, istilah ini sudah tidak asing lagi.

    Fenomena TCK kini mulai dialami masyarakat Batak dan umumnya yang suka merantai.

    Berikut informasi TCk dikutip dari berbagai sumber:

    TCK adalah term untuk mereka yang memiliki budaya ketiga karena hasil dari pengalaman hidup di budaya yang berbeda dari orangtua. Budaya ketiga ini hasil dari pemcampuran budaya yang dialaminya ketika dalam masa childhood atau developmental years.

    Sebagai contoh, kedua orangtua dari Indonesia, tapi besar di luar negeri selama masa kanaknya. Budaya dia ketika besar dapat terbentuk dari budaya yang diajarkan di rumah oleh orangtuanya dan juga dari luar rumah, yaitu lingkungan sekitar (sekolah, pertemanan, kehidupan sosial, dan lain-lain).

    Contoh lain adalah seseorang dari hasil pernikahan orangtua yang berasal dari budaya yang berbeda, misalnya interracial marriage Austria dan Indonesia. Anak dari hasil pernikahan ini akan mendapatkan budaya dari Austria, Indonesia, dan terbentuklah budaya ketiga dari hasil percampuran ini.

    Sering sekali ketika seorang TCK ditanya, "Kamu lebih merasa seperti orang (Indonesia) atau (Austria)?" atau "Kamu lebih suka negara yang mana?" jawabannya adalah, "Enggak tahu", karena dia merasa memiliki dua atau tiga budaya tapi tidak 100% karena sebagian besar masa kecilnya yang sangat multiculture dan mobile.

    Manusia adalah makhluk sosial yang perlu suatu komunitas yang dapat menerimanya dan dia pun merasa diterima dan dimengerti, tapi tantangan seorang TCK adalah menentukan komunitasnya. The fact is, they are not only from one culture but all the cultures they have lived in. It is just who they are as a global citizen.

    Hal ini menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut dari segi pembentukan karakter, pandangan hidup, bagaimana orangtua mendidik anak TCK, sense of belonging and identity, dan masa depan (settling down and career).

    Mungkin diantara kita ada yang TCK atau yang merasa TCK atau bahkan akan menjadi orangtua dengan anak-anak TCK. Di era globalisasi ini, semakin banyak kesempatan studi dan kerja di luar negeri dan di masa yang akan datang, akan semakin banyak anak-anak TCK. Menurut kami, awareness tentang TCK ini penting untuk diberikan kepada masyarakat--untuk orangtua dan anak.

    Salah satu hal yang menarik bagi kami adalah bagaimana para orangtua memiliki planning dan pandangan yang berbeda dalam mendidik anak mereka yang TCK. As a parent, you have the choice on how to raise your multicultural kids and it's fun as well as challenging.

    Contohnya mengenai bahasa, ada yang ingin anaknya hanya fokus ke satu bahasa saja, dan ada juga, di rumah bahasa Indonesia, di sekolah bahasa Jerman dan Inggris. Ada yang membuat jadwal: Senin bahasa Inggris, Selasa bahasa Jerman, Rabu bahasa Indonesia dan seterusnya. Ada juga yang dengan ibunya, mereka hanya berbicara bahasa Indonesia dan dengan ayahnya hanya berbahasa Jerman. What may sound easier, ada juga semua kosakata dari berbagai bahasa dipakai dalam satu statement.

    Lihat sumber lain di sini

    No comments:

    Post a Comment


    Galeri

    Ekonomi

    Budaya